30 August 2023

Pelajaran anak SD semakin sulit

Ketika melihat buku pelajaran anak kelas 1 SD saya agak kaget, karena buku kelas 1 SD zaman sekarang tulisannya kecil-kecil dan pertanyaannya sudah sulit. Sangat jauh berbeda dengan keadaan 20 tahun dan 30 tahun yang lalu di mana kelas 1 SD adalah masa-masa belajar berhitung dan belajar membaca. sekarang anak kelas 1 SD sudah dituntut untuk bisa berhitung dan bisa membaca serta menulis. Sebagai seorang guru dan dari lulusan jurusan ilmu kependidikan saya merasa khawatir dengan keadaan ini. Padahal dalam teori sudah sangat jelas bahwa setiap anak itu memiliki perkembangan kognitif yang harus dilalui sesuai tahap-tahap usianya. Merusak ya pelajaran yang diberikan sekarang ini terlalu tinggi atau terlalu sulit sehingga justru berdampak berbahaya bagi perkembangan mental dan kecerdasan siswa. 
Ketika seorang anak diberi kapasitas beban yang melampaui kekuatannya itu tidak membuat dia semakin pintar tapi justru malah bisa menghancurkan mental dan kecerdasannya. Sama ibaratnya seperti otot setiap anak ketika berlatih olahraga harus diberikan porsi latihan yang sesuai dengan usianya. Ketika seorang anak kelas 1 SD disuruh mengangkat beban 50 kg itu adalah sebuah ya hal yang mustahil ia ketika latihan mengangkat beban 50 gram dia tidak akan bertambah kuat tapi justru malah berbahaya rentan membuatnya cidera. Seorang anak yang kapasitas otaknya belum memenuhi tapi diberi beban yang terlalu tinggi justru akan membuat dia stres dan berbahaya terhadap perkembangan kecerdasannya ke depan. 

nilai raport tidak mencerminkan kecerdasan siswa

Nilai raport sekarang sangat berbeda dengan nilai raport zaman dulu, jika zaman dulu menggunakan skala dari 1 sampai 10 sekarang menggunakan skala dari 1 sampai 100. 
Sebagai guru saya sangat suka dengan sistem penilaian dari 1 sampai 10 karena akan sangat mudah menilai siswa dan hasil antar sekolah pun relatif sama seimbang. Misalkan siswa yang sangat cerdas sangat baik sangat terampil diberi nilai 9 yang di bawahnya 8 yang sedang-sedang nilainya 7 yang jelek 6 dan yang parah misalkan diberi nilai merah di bawah nilai 5. 
Selain skala yang kecil penilaian rapor zaman dulu juga menampilkan nilai rata-rata kelas sehingga kita bisa melihat kemampuan seseorang siswa dibandingkan dengan teman-teman satu kelasnya. Berbeda dengan daerah otot sekarang nilai dari skala 1 sampai 100 namun ada nilai KKM. KKM sekolah berbeda-beda ada yang mulai terendah dari 65 70 maupun 75 bahkan ada yang KKM nya 80. Dampak dari nilai KKM yang sangat tinggi mengakibatkan rapor tidak bisa dijadikan tolok ukur kecerdasan dan keterampilan seorang siswa. Anak yang mendapat nilai 90 di sekolah a tidak sama dengan nilai 90 di sekolah b. begitupun di dalam rapat yang tercetak tidak terdapat nilai rata-rata kelas sehingga meskipun anak tersebut memiliki nilai 90 tapi kita tidak tahu bahwa anak tersebut ternyata nilainya di bawah rata-rata kelas karena teman-teman yang lain mendapat nilai 95 dan 96. 
Nilai raport yang sangat tinggi tersebut juga menimbulkan ketidakfar dalam seleksi penerimaan siswa baru melalui jalur SNMPTN undangan. Sekolah bisa memberikan nilai tinggi kepada seluruh peserta didiknya agar bisa lolos dalam jalur SNMPTN undangan. Padahal meskipun nilai anak tersebut tinggi sebenarnya nilai dia itu berada di bawah rata-rata sekolah. Maka dari itu perlu ada sebuah sistem dalam penerimaan mahasiswa baru agar menampilkan nilai rata-rata sebuah sekolah. Anak yang bisa mendaftar melewati jalur prestasi memiliki kriteria tertentu misalkan tidak boleh ada nilai yang berada di bawah nilai rata-rata sekolah. 
Semoga ke depan ada perbaikan dalam kebijakan penilaian raport maupun ijazah dan lain sebagainya sehingga lebih fair antar sekolah tidak terjadi lomba-lomba tinggi-tinggian nilai.